01.24.09

Menikah minggu depan

Posted in Uncategorized tagged , , , , , , , at 12:33 pm by naD2ieDhiYa

“Menikah minggu depan, mau?”

Gimana seandainya ada yang ngucapin kata2 ini ke kamu? Seneng mungkin, sedih (sedih kenapa ya?), bingung (pastinya), dan macem2 perasaan lain akan ngumpul dihatimu.. Tiba2 dilamar untuk nikah minggu depan.

Kira2 dua minggu lalu, ada yang mengucapkan kata2 itu ke aku. Reaksiku? cuma bengong dengan sejuta pertanyaan dikepalaku.. “Jangan becanda, kak…” itu kata2 pertama yang terucap dari ku setelah kesadaran mulai datang lagi. Menurutku itu bukan hal yang bisa dibuat bahan becandaan.

Dan dengan wajah yang udah mulai bisa tenang sekarang, dia menjawab : “aku serius”. Lagi2 aku bengong.. ngga percaya, bener2 ngga percaya. Dan aku cuma bilang: “aku ngga mungkin nikah minggu depan”. Dia bilang, ngga harus minggu depan juga, tapi tetep dalam waktu dekat ini. Tapi kenapa aku? dan banyak penjelasan dari dia hingga akhirnya aku percaya dan bilang akan pertimbangin semuanya.

dan jadilah sekarang aku bingung….  bener2 bingung. menurut penilaianku, dia laki2 yang sangat baik, saleh, sabar, sangat mengerti aku dengan semua hal yang aku lakukan, dan yang terpenting aku rasa dia bisa jadi imam untukku. Dan dilihat dari segi manapun, dia memang sudah pantas waktunya menikah. Dia mapan, usia juga sudah cukup untuk menikah.

Tapi, tetep aja… Aku ngerasa ngga siap untuk terima lamaran itu saat ini. Aku masih kuliah gitu, dan aku bakal disibukkan sama kegiatan PL – kolokium – skripsi – seminar – sidang. kaya’nya ngga mungkin aku mikirin untuk kesana.. Yang bikin aku bingung juga bukan itu, tapi dulu  ibuku pernah bilang agar aku menyelesaikan perkuliahanku dulu, baru menikah. Pesan yang wajar sekali diberikan beliau. Ibu pasti ngga ingin kuliahku berantakan seperti kakakku yang menikah saat masih kuliah. Dan banyak lagi berjuta alasan untuk ngga menerimanya, yang ngga mungkin aku list disini.

Karena bingung, aku cerita ke beberapa temen kosan untuk dapetin masukan. Dan hampir semua yang mereka bilang adalah untuk terima lamaran itu. Hampir semua point2 yang mereka bilang padaku terdengar masuk akal…

masih kuliah juga bukan alesan kali…. (alesan kali… :p)

klo orangnya baik, dan kamu bisa jelasin sama ibu, mungkin aja ibu berubah keputusan… (yup.. bener juga)

kan bisa jadi penyemangat juga… (hmmm….. mungkin..)

istikharah dulu… (he’eh.. pasti…)

dll..

dll..

akhirnya aku putuskan untuk bicara dengan ibu dulu. Jika memang ibu akan melarang, aku ikhlas, karena aku ngga ingin ibu sakit hati dan sedih lagi. Masih bisa ku ingat bagaimana kondisi ibu saat dulu kakakku menikah saat masih kuliah. apa yang ibu takutkan benar2 terjadi, kuliah kakakku berantakan, dan sejak itu ibu sering sakit karena sedih yang begitu dalam.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumah, karena ngga mungkin aku bicarain hal kaya’ gini lewat telepon. Malam itu aku dan ibu ngobrol banyak, karena aku juga udah lumayan lama ngga pulang kerumah. dan saat itu aku bilang tentang lamaran itu (ibu udah kenal dengan orang yang melamar aku).. Ibu terdiam, aku sudah menyiapkan hatiku untuk menerima kata tidak dari ibuku. Semenit, dua menit, ibu ngga juga mengucapkan apa2.. hingga akhirnya.. “pilih aja mana yang menurut kamu baik, mama insyaAllah setuju.. istikharah dulu..”. Ayah juga setuju saat aku ceritakan.

Ngga kusangka, ibu bisa ngasih ijin… tanpa aku berikan alasan2 lain, tanpa harus adu argumen.. dalam hati ku, aku janji ngga akan bikin ibu kecewa untuk kedua kalinya. aku akan selesaikan kuliahku dengan baik.. hingga ibu ngga akan pernah menyesalkan izinnya untukku.

Malam itu juga aku langsung istikharah. Karena bagaimanapun masih ada keraguan dalam hati aku.  Hasilnya… entah mengapa, hasilnya bukan untuk menerima, tp menolaknya.. Jelas sudah, mungkin memang bukan saatnya, inilah yang terbaik untukku, untuk dia, untuk semuanya.

untukmu kak,, jangan bersedih untuk keputusan itu, mungkin memang saatnya belum tepat, atau mungkin memang kita ngga bisa menjalaninya berdua. mungkin akan ada yang lain untukmu dan untukku. jangan menungguku dan menyandarkan asa itu padaku.  yakinlah ini yang terbaik untuk kita, kak..

01.19.09

Sekilas Info….

Posted in plus2 tagged , , , , at 12:06 pm by naD2ieDhiYa

maaph2, tidak bermaksud membajak nama, cuma pinjem aja, boleh kan… ha9x… serius nih.. cuma mw kasih info dikit duank….

jadi ini blog saia yang baru, kurang lebih baru 5 bulan dan ini post kedua saia.. blog yang satunya isinya cuma cerita2 ga penting saia sehari2.. tp klo blog yang ini pengennya sih di isi sama yang lebih serius…

trus trus.. kenapa mesti ada blog baru? *garuk2 kepala* saia juga bingung.. jadi waktu itu emang pengen aja memisahkan tulisan2 yang agak serius di blog yang beda.. emang sih ngurusnya ribet (lebay!!) dan terkadang tulisan yg pengen saia posting disini tuh idenya menguap tiba2 (ilang gitu…). jadilah blog ini baru punya satu postingan (dua sama yg ini)..

nah, sesuai ama title blog ini (Mimpi dan Realita), isi blog ini bisa aja hasil pengalaman saia sendiri ataupun hanya fiktif belaka alis ngarang alias mimpi.. Mana yang ngarang, mana yang beneran, sok aja tebak sendiri.. yang jelas saia pengen blog yang ini bisa berguna bwat temen2 semua… tp jangan lupa kunjungin juga blog saia yg satu lagi….

-regards-

11.08.08

Aku Ingin Kembali….

Posted in Uncategorized at 9:59 am by naD2ieDhiYa

Aku bukan manusia yang sempurna. Aku hanyalah manusia yang sedang berusaha unuk menjadikan diri ini terus lebih baik dari sebelumnya. Keinginan umum yang mungkin selalu ada dalam diri setiap insan. Sebagai manusia yang tak sempurna pasti melakukan salah. Salah berkata, bentindak, bekerja, atau bahkan salah mengambil jalan.

Dulu, semasa SMA, aku termasuk anak yang biasa saja. Aku bahkan tidak begitu mengenal bagaimana agama ku mengatur tata cara pergaulanku. Masih ku ingat dengan jelas saat itu. Aku duduk di bangku 2 SMU, bersama 2 orang temanku (Muslim dan Acha, keduanya laki-laki) kami menghitung perolehan nilai kami selama minggu ujian pertama. Kebetulan sekali 2 orang itu adalah saingan terberatku di kelas. Selesai menghitung-hitung dan mengolah data (haha, padahal tau mengolah data baru di statistika), kesimpulannya adalah nilaiku terbaik dari kami bertiga, Acha terbaik kedua, dan Muslim yang terakhir.

Dengan hasil itu kami saling memberi selamat, untuk keberhasilan kami di ujian pertama. Aku bersalaman dengan Acha. Acha bersalaman dengan Muslim. Tapi saat aku menyodorkan tanganku ke arah Muslim dia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Aku sungguh kaget. Karena sebelumnya tidak ada yang berlaku seperti itu denganku. Belakangan aku baru mengetahui kalau Muslim adalah calon ketua Rohis di SMU ku.

Setelah kejadian itu aku banyak belajar, tidak hanya dari Muslim, tetapi juga dari teman-temanku yang lain. Aku pun memasuki ekskul Rohis yang dulu sempat ku tinggal karena merasa bosan. Disana aku belajar banyak mengenai tata cara pergaulan antara lelaki dan perempuan. Baru ku tahu saat itu, mengapa Muslim tidak membalas uluran tanganku saat itu. Karena ada hadist (atau apa aku lupa) yang meyatajkan bahwa Rasulullah tidak pernah memegang tangan (bersentuhan) dengan wanita yang bukan muhrimnya pada saat membai’at (koreksi jika aku salah). Sejak tahu hal tersebut aku berusaha mengamalkan ilmu yang kupunya.

Di saat lain, aku mengetahui hal yang baru lagi. Bahwa tidak ada kata pacaran dalam kamus Islam. Aku di beri pengertian mengenai hal ini dengan berbagai sudut pandang. Menelaah manfaat dan kerugian pacaran. Hal ini pun aku terima. Aku berusaha menjalaninya. Walau masih banyak pertanyaan terlontar dalam pikiranku.

Pernah aku bertanya pada guru agamaku, bagaimana jika kita menyukai seseorang. Bolehkan ia tahu? Guruku menjawab, suka itu fitrah kita sebagai manusia. Tapi jangan arahkan dia untuk melakukan hal yang tidak diijinkan oleh Allah (ex ; pacaran). Lebih baik simpan rasa itu sendiri. Cukup kita dan Allah yang tau. Dan alihkan rasa suka itu untuk tidak membebani kita. Cukuplah di hati ini kita mencintai Allah. Dan belajarlah untuk mencintai seseorang karena Allah. Jawaban guruku ini bisa ku mengerti, dan aku berusaha melakukannya.

Selepas SMU aku melanjutkan stusi ku di kampus ini, IPB tercinta. Jauh dari teman2ku dan tidak berlanjutnya liqo yang selama ini kuikuti, membuatku kehilangan arah. Aku berubah. Walau tidak sepenuhnya. Semasa TPB, walau aku tidak lagi liqo (hanya mentoring PAI) aku masih bisa menjaga diri. Pergaulanku masih terjaga saat itu. Aku juga masih bilang sama teman TPB ku : ngga boleh pacaran. Aku InsyaAllah ngga mau pacaran.dll.

Semua berubah saat aku tingkat 2 akhir. Saat itu kami mahasiswa Statistika melakukan studi banding ke jogja. Kebetulan sekali salah satu teman SMU ku kuliah di sana. Namanya Yori, dia dulunya ketua MPK di sekolah, jebolan pesantren juga. Dia salah satu orang yang mengenalkanku pada konsep ”tidak bersentuhan dengan bukan muhrim” dan ”tidak pacaran”.

Tapi pertemuanku dengannya sungguh mengagetkan. Saat bertemu dia memanggilku yang sedang berjalan menuju masjid untuk shalat. Sebelumnya kami memang janjian untuk bertemu di alun2. Aku menghampirinya. Tapi saat itu aku sungguh sangat kaget dengan sikapnya. Saat mnanyakan kabarku dia menyodorkan tangan padaku, mengajakku bersalaman. Aku kaget, shock, dan ga percaya sama apa yang aku alami. Kejadiannya terbalik. Kini aku yang menangkupkan tangan. Dari pembicaraan kami selepas magrib aku tau di bahkan sekarang juga berpacaran! Shock hebat kali ini. Mungkin imbas dari pergaulannya juga. Karena menurutnya dia juga udah ngga liqo lagi.

Kejadian hari itu bawa dampak yang sangat besar setelahnya. Apalagi saat liburan aku bertemu dengan teman2ku semasa SMU yang memang lumayan sering kumpul2 jika liburan. Bertemu Muslim juga. Tapi apa yang ku lihat? Dia juga berubah. Sama saja seperti Yori.

Perubahan mereka membuatku ngga percaya. Aku merasa di bohongi. Aku merasa di tinggalkan. Aku kecewa. Suatu pikiran yang salah melintas di otakku. Mengapa aku harus seperti dulu, sedangkan mereka yang membuatku begini sudah berubah. Sangat berubah.

Sayangnya pikiranku yang salah terus melekat di otakku. Seharusnya aku menyadari kalau semua yang telah kulakukan ngga boleh atas dasar mereka, ngga boleh karena mereka. Tapi karena aku harus dan ingin begitu. Aku kembali seperti dulu. Tanganku seolah begitu ringan untuk menyentuh laki-laki yang bukan muhrimku. Aku bahkan membiarkan mereka menyentuhku juga. Perasaan bersalah sempat ada, namun aku tidak menghiraukannya. Sikapku pun berubah. Aku yang sebelumnya tidak sering berkata kurang sopan (dulu klo ngomong aja aku sebut nama, sekarang lo-gue) juga berubah. Mudah sekali aku mengucapkan kata2 yang aneh, yang dulu sangat jarang ku ucapkan. Aku berubah total. Tapi bukan ke arah yang lebih baik. Semua karena kekecewaanku.

Perbahan paling besar dalam sikapku adalah mengenai pandangan terhadap ”pacaran”. Kondisi kosan yang juga berbeda ikut mempengaruhi. Dimana teman2 satu kos ku banyak sekali yang pacaran. Sehingga aku terbiasa mendengar cerita2 mereka. Hingga aku akhirnya melakukan kesalahan yang menurutku sangat besar dan fatal.

Aku bersama seorang teman kuliahku, manangkap fenomena yang terjadi dalam hubungan temanku. Sebut saja namanya Sari dan Toni. Mulailah kami meledek2 mereka. Nge-ceng-in mereka di depan anak2 yang lain. Hampir setiap hari. Bahkan aku pernah mengirimkan sms ke Toni yang isinya kurang lebih begini : ”jujur aja sih klo suka sama Sari, ntar klo beneran kita bantuin deh…”. Astaghfirullah. Aku sangat malu untuk kejadian itu.

Sari pernah memintaku untuk berhenti meledek mereka. Dia bilang takut kalau benar2 terjadi sesuatu pada mereka. Lagi pula dia ngga mau pacaran karena tau ngga ada kata pacaran dalam kamus islam. Aku mengiyakan, tapi tak bertahan lama. Kami mulai lagi menjodoh2kan Sari dan Toni. Terus begitu. Hingga akhirnya suatu saat Sari mengatakan padaku bahwa dia akhirnya juga menyukai Toni.

Awal semester ini terjadi satu hal yang cukup mengejutkanku. Sari akhirnya mengakui bahwa ia dan Toni udah jadian. Aku kaget. Ngga menyangka itu benar2 terjadi. Aku sempat bimbang. Ingin melakukan sesuatu untuk mencegahnya. Tapi akhirnya aku membiarkan semua terjadi. Toh memang dulu ini tujuan kami..

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Setelah jadian, Sari dan Toni semakin sering bersama. Bahkan Sari yang dulu selalu bareng aku sekarang lebih sering bersama Toni. Aku bukan menyesalkan alpa-nya Sari dari aku. Tapi pada sikap2 mereka berdua. Sering kali aku melihat mereka duduk begitu dekat, bercanda2 dan hal lain yang sering dilakukan orang yang pacaran. Tapi aku membiarkannya.

Tapi Allah masih menyayangiku. Setidaknya aku masih tidak berpacaran. Walau aku menyukai seseorang. Allah menjagaku, mambuatku bisa melupakan rasa sukaku pada seseorang dan mengalihkannya ke hal lain. Walau itu tak pernah mudah. Kini, aku bersyukur pernah ada seorang yang meninggalkanku saat aku begitu menyukainya. Jika tidak, mungkin saat ini statusku pun sama dengan Sari.

Hari ini sebuah kejadian menyadarkanku. Betapa aku sudah begitu jauh dari nilai2 itu. Betapa aku sudah membelok terlalu tajam dari jalan yang semestinya ku ikuti. Aku merana. Sangat ingin semua kembali seperti dulu. Aku ingin menjadi aku yang dulu, yang terjaga. Aku ingin berubah.. Aku ingin bisa lebih baik dari dulu. Aku ingin menjalani apa yang dulu membuatku sangat nyaman dengan diriku.

Dari hatiku yang paling dalam, aku mohon maaf untuk orang2 yang telah menjadi korban kekhilafanku. Maaf sudah ikut menjerumuskan kalian ke jalan yang salah. Maaf sudah melibatkan kalian dalam salahku. Aku sungguh minta maaf. Aku hanya bisa berharap kalian dapat memutuskan yang lebih baik..